Kamis, 10 Maret 2016

Hai ibukotaku! Aku rindu kamu.

Apa kabar kamu, Pangeran (ku)?
Sudah empat bulan lamanya aku berjuang sendiri untuk tetap bisa berdiri tegap dengan mata yang penuh kasih sayang setiap bertemu dengan mu dalam kondisi apapun bahkan saat kamu sedang bersama kekasihmu itu. Empat bulan mungkin waktu yang sebentar bagimu. Bagiku? Tak perlu kujabarkan semuanya. Aku tahu apa yang aku lakukan ini memang semuanya palsu. Aku selalu berusaha untuk tetap tersenyum saat kamu masih terus menggodaku dengan guyonan lucu andalan mu. Padahal yang sebenarnya, bagian terdalam dan bagian paling dasar dari tubuhku ini sedang menangis. Menangis karena mengapa kau masih terus mengusik kehidupanku? Kenapa kamu masih peduli dengan keadaanku. kenapa kamu masih terus menghiburku saat kamu melihatku diam seribu bahasa? Kenapa kamu masih mau menatap mataku? Kenapa kamu masih terus memanggil namaku? Apa pentingnya aku dalam hidupmu? Tak tahu kan kamu? Hal semacam ini yang paling aku takutkan. Hal semacam ini yang paling aku benci. Hal semacam itu yang akan terus melukai ku. Melukai hatiku. Melukai tubuhkn. Aku semakin tersiksa dengan semua hal kecil yang kamu lakukan padaku. Padahal aku sudah berjanji pada alam, bahwa aku akan melupakanmu secepat mungkin. Tapi apa yang terjadi? Semua diluar dugaan ku. Kamu terus menjadi hantu dalam hidupku. Dan. Pangeran (ku),ada hal yang perlu kamu ketahui. Aku sangat terbantu jika kamu memang benar-benar menghilang dari dunia ku. Sungguh. 
Hampir setiap malam, suara merdu dari Nona Adele ini terus kubiarkan mengalun dalam ruangan tertutupku ini. Kubiarkan memenuhi kepalaku, membiarkannya mengalun disana sembari memutar kejadian singkat yang kita, di ralat, antara aku dan kamu yang dulu pernah terjadi, menyesakkan rongga dadaku, membiarkan dinginnya malam menyentuh kulitku, membiarkan air mata itu menari dipipiku. “Hold me like I’m more just a friend”... Terus berputar, berputar, dan membiarkan kalimat itu terus menetap disana. Aku masih teringat hari dimana kamu sudah merubah status lajang mu menjadi memiliki hubungan terikat dengan seorang gadis. Aku baru sadar bahwa satu hari sebelum kejadian itu merupakan malam terakhirku untuk berjuang mendekatimu. Dan jika aku tahu itu malam terakhirku, aku hanya ingin memintamu memelukku sebagai teman. Membiarkan aku mendekap erat tubuhmu untuk kubiarkan pergi dari hidupku.Ya, sebagai temanmu. Temanmu yang selalu siap untuk mendengarkan keluh kesahmu. Jika ada orang yang bertanya sampai kapan aku akan seperti ini? Maka jawaban ku sederhana saja. “Sampai dia benar-benar pergi dariku.” Kenapa? Ada yang salah? Tidak. Tidak ada yang salah dengan jawaban itu. Jika kalian berpikir aku akan semakin depresi jika dia benar-benar pergi, maka kalian salah besar. Sudah aku tegaskan di awal bukan? Aku sungguh berterimakasih jika dia pergi dari hidupku. Karena tidak akan ada lagi yang mampu mengusik kehidupanku. Tidak ada lagi wujud yang perlu kurindukan kehadirannya. Yakin? Pasti kalian juga bilang itu. Aku pun sebenarnya tak yakin dengan jawabanku itu. Mungkin aku sudah gila saat ini. Aku pun tak mengerti lagi dengan semua ini. Aku lelah dengan semua ini. Aku lelah dengan semua omong kosong ini. Aku lelah dengan semua bentuk kepalsuan ini. Aku lelah menjadi yang bukan diriku. Aku lelah untuk terus telihat baik-baik saja di depanmu. Aku lelah dengan semua persoalan ini. Aku lelah dengan semua kejadian bodoh ini. Aku hampir saja menjadi gadis abnormal karena ini. 
Ohiya, apa kabar kamu? Jangan terlalu serius baca tulisan bodoh ini. Aku lupa. Aku yakin bahwa tulisan ini pasti tidak akan pernah terjamah olehmu, bukan? Sudah kupastikan keadaanmu baik-baik saja. Kesehatan mu semakin baik, jadwal makan kamu juga sudah mulai teratur, aku sudah tidak menemukan kantung mata yang biasanya bertengger di mata kamu karena jadwal tidur kamu juga sudah teratur. Luar biasanya pengaruh gadis pujaanmu terhadap kehidupanmu. Seandainya kamu itu milikku, aku juga akan melakukan hal yang sama sepertinya. Aku akan membuat keadaan mu baik tanpa tekanan. Aku akan menjagamu layaknya kamu menjagaku. 
Jika aku bertemu dengannya,aku ingin mengucapkan terimakasih untuk gadismu itu. Terimakasih karena mau menjaga dan mengurusmu dengan kasih sayangnya. Teruslah seperti itu. Sampaikan padanya bahwa kamu akan melakukan hal yang sama seperti yang dia lakukan padamu. Jangan buat dia kecewa. Jangan buat dia menangis. Jangan buat hidupnya sama seperti hidupku yang rapuh. Jangan hancurkan hatinya. Biarkan hatinya tetap utuh. Karena sekali retak, akan tetap retak dan takkan pernah utuh lagi. Walau sudah diperbaharui berkali-kali, tetap akan terlihat cacat. Kalian serasi. Yang satu ganteng wajahnya bagaikan hasil pahatan seniman terkenal dan yang satu lagi cantik, anggun layaknya putri dari kerajaan ternama di dunia ini. Katanya kalian mirip. Iya memang kalian mirip. Kalian cocok kok. Aku senang melihat kalian ketika jalan bersama. Aku senang ketika kalian makan bersama. Karena yang aku tahu kamu tidak pernah makan siang tepat waktunya. Jadi aku bersyukur jika kamu sekarang makin berisi. Hehehe. Sekali lagi kuucapkan terimakasih pada gadis pujaanmu itu. 
Lantas yang menjadi pertanyaan besar bagiku, kenapa kamu masih peduli dengan keadaanku. aku bisa melihat sorot mata mu yang bertanya-tanya jika aku diam. Apa pentingnya tingkah konyol yang kulakukan tanpa memakai otak itu? Apa ada yang salah jika aku diam? Kamu selalu berhasil untuk membuatku tertawa. Kamu selalu berhasil membuat emosi ku stabil kembali. Tapi kenapa? Apa alasan kamu melakukan itu semua? Apa yang menjadi alasan mu untuk tetap peduli padaku? Jawabannya. Karena aku adalah temanmu. Jawaban sederhana namun terkesan menyakitkan. Iya. Sebatas teman. Tak lebih dari teman. Apa salahnya peduli dengan teman, bukan? Haha. Iya. Kamu benar. Benar sekali. Kita ini teman. Sahabat. Aku paham itu. 
Maafkan atas sikap dinginku selama ini. Maafkan atas sikap tidak peduli ku pada kehidupan sekelilingku. Maafkan aku yang sering mengabaikan panggilanmu. Maafkan atas semua sikapku padamu... Lihatlah. Dalam keadaan seperti ini, aku masih tetap mengalah untuk meminta maaf padamu, te-man. Karena aku sedang berusaha keras untuk tidak mengejarmu lagi. Untuk tidak berlari lagi, karena aku sudah kalah. Susah rasanya untuk membiarkan kaki ini diam di tempatnya. Ingin terus berlari. Tapi apalah daya gadis bodoh seperti ku ini. Aku yang seharusnya dari awal menolak segala magnet-magnet dari tubuhmu, agar aku tak terjerumus ke hal yang salah. Aku yang salah. Aku akan terus menyalahkan kebodohan ku.Padahal sebenarnya tidak ada yang salah disini. Hanya aku yang terlalu berlebihan. 
Sudah lama tidak menulis tentang mu. Aku merindukanmu. Iya. Merindukan mu. Wujud mu dan wujud ku yang sebenarnya. Aku merindukan mu. Sampai bertemu di universitas yang akan aku dan kamu tuju. Aku masih tetap mencintaimu sama seperti aku mencintai ibukota, karena kamu akan terus menjadi ibukota di hatiku. Sampai bertemu di ibukota, Sobat! Panggilan baru dari aku untuk kamu. Sobat terdengar lebih baik mungkin. Aku menyayangimu, Tuan, Ibukota-ku, Pangeran-ku. Maafkan aku yang terlalu lancang dengan semua ini. Sekali lagi, Aku rindu kita yang tertunda. 


                                                                Dari salah satu rumah susun                                                                 sederhana yang ada di ibukota.                                                                            Aku sayang kamu.

Selasa, 10 November 2015

Hari bahagiamu, hari terburukku.


            Aku duduk diam, membiarkan aku larut dalam kesedihan ku. Membiarkan kepala ku penuh dengan bayangan tentang kamu. Aku merasa sunyi, padahal sesungguhnya aku sedang berada dalam ruangan yang dipenuhi orang-orang yang sedang merasakan kebahagian (mungkin) dalam dirinya.
            “And I’m feeling so small... And I’m saying goodbye”
            Terdengar samar-samar suara seseorang di belakang sana yang melantunkan lagu tersebut. Seketika itu juga air mata ku jatuh (lagi). Alunan lagu tersebut memang menggambarkan sebuah kesedihan yang mendalam dan semua ketakutan yang akhirnya terjadi dalam kehidupanku; gadis pemujamu ini.
            Sebelumnya, ijinkan aku untuk mengucapkan ‘Selamat ulang tahun kamu; pangerannya orang lain’. Doa dan harapanku sudah diterbangkan oleh angin malam dan (semoga) sampai kepadamu. Mungkin termasuk suatu lelucon bagi mu jika kamu membaca ini. Tapi mungkin tulisan ini tidak akan pernah terbaca olehmu. Kalaupun kamu membacanya, yang pasti ada dalam benakmu hanya omong kosong belaka. Aku menjaminnya. Semoga kamu semakin sayang kepada ibumu, semakin sayang pada adik perempuan mu, dan juga semakin sayang pada wanita yang saat ini sudah sah sebagai kekasihmu. Aku disini akan tetap senang dengan semua hal yang bisa membuat kamu bahagia. Karena senyum bahagia mu juga menjadi kebahagian tersendiri buatku. Walau sesudah itu, hanya aku dan ruang kamar ku saja yang tahu.
            Semalam, tepat hari ulang tahun mu, hari paling bahagia untuk mu, hari terburuk buat ku. Hari dimana aku harus belajar untuk merelakan kepergian mu dari kehidupanku. Iya. Tepat dihari ulangtahunmu, kamu memutuskan untuk menyatakan perasaan mu pada gadis yang ternyata selama ini kau cintai. Ketika melihat kedatanganmu dari jauh, sejujurnya aku sudah menyiapkan beberapa kalimat yang akan kuucapkan padamu. Namun langkah dan senyum ku terhenti ketika salah seorang temanmu memproklamirkan bahwa kamu  sudah menjadi milik gadis lain. Perlahan senyum yang awalnya berasal dari hati ini memudar dan berubah jadi senyum paksaan. Aku menghentikan langkahku, berjalan mundur dan kembali ke tempat dimana sebelumnya aku berada, takut jika ada yang melihatku menangis.  Dan aku merasa dunia berhenti berputar. Ternyata benar. Kamu benar-benar melakukannya. Kamu. Penyebabnya. Lantas, aku harus apa, disaat kau sedang bahagia seperti itu? Haruskah aku menangis di depan mu? Tak mungkin. Karena tangisan ku di depan mu tak akan bisa mengubah segalanya. Tangisan gadis pemuja mu ini takkan bisa menjadi alasan bagimu untuk memutuskan hubunganmu dengannya. Tangisan gadis yang selalu mendoakan mu ini takkan bisa mengubah keputusanmu itu. Karena aku yakin kau sudah merencanakan ini sejak lama. Terlihat jelas raut kebahagian di wajahmu. Aku yang selalu memuja keagungan bentuk wajahmu takkan sanggup jika harus melihatmu tidak bahagia. Aku yang selalu menyukai sinar mata mu takkan akan sanggup jika harus melihat air mata mu menetes. Aku yang selalu punya impian untuk bisa memeluk tubuhmu, takkan mungkin rela jika harus melihat tubuh mu yang tegap itu tidak memiliki sandaran saat kau sedang lelah. Aku rela jika harus melihatmu menyadarkan kepalamu di bahu gadis yang kau cintai tersebut. Jika itu mampu menghilangkan rasa lelahmu, tak apa. Aku siap untuk melihat segala bentuk tingkah kamu dan gadis pujaanmu. Karena gadis pemuja mu ini hanya akan tetap sebagai pemuja saja dan tidak akan berubah mejadi pujaanmu. Aku rela jika harus melihatmu tertawa karena tingkah gadis pujaanmu itu. Aku rela jika harus melihatmu menggandeng erat tangan mungil gadis itu. Aku akan tetap tersenyum jika kamu bertanya hal apa pun padaku. Aku akan tetap memamerkan wajah terbaikku agar kau tidak tahu bahwa sebenarnya ada hati yang terluka karena mu. Bukan. Bukan karena mu. Tapi karena ku yang sudah terlalu jauh mengkhayalkan mu. Aku yang sudah terlalu menganggap berlebihan semua perhatianmu. Aku sudah beranggapan bahwa tatapan mata elang mu itu sudah aku miliki. Salahku. Lihatlah, dalam keadaan seperti ini pun aku masih tetap menyalahkan diriku sendiri. Dan tidak akan pernah menyalahkan kamu, pemilik hati ini dan penghancur hati ini. Sesakit ini kan jatuh cinta? Bukan. Lebih tepatnya jatuh hati. Iya. Harus sesusah inikah melawan rasa sakit ini? Lalu, apa yang harus ku lakukan saat ingatan tentang kamu. bukan! tapi tentang kita, tiba-tiba melintas di pikiran ku? Saat aku merindukan percakapan sederhana kita? Saat aku rindu dengan segala godaan kecil yang kau lakukan padaku? Saat aku rindu untuk menatap mata mu? Tidak ada. Sama sekali tidak ada. Cuma  air mata yang akan membasahi pipi ini.
            Tuan, aku hanyalah gadis pemujamu yang tak akan pernah kau ketahui bagaimana kabarnya dan keadannya. Dan takkan pernah kau tanyakan bagaimana kabarku dan hari-hari yang kujalani. Aku hanyalah gadis pemuja mu yang juga tak akan pernah kau ketahui sebesar apa rasa sayang yang dimilikinya pada mu, Tuan. Kau juga tidak akan pernah tahu bahwa ada sosok pemuja mu yang selalu rela membawa nama mu dalam setiap barisan doa yang diucapkannya. Kau juga tidak akan pernah tahu bahwa aku yang rela menunggumu selama ini namun dikecewakan begitu saja. Beruntungnya gadis yang memiliki karya Tuhan dengan pahatan wajah seperti mu ini. Betapa bahagianya memang jika kedua insan benar-benar saling mencintai; tidak seperti aku. Tak perlu khawatir, tenang saja. Aku sudah mulai belajar untuk melupakan mu, walau di awal memang sulit. Aku akan berusaha untuk menghindar dari mu. Aku akan pergi dari kehidupanmu. Aku akan berusaha untuk tidak berbicara apa pun padamu. Karena aku tahu, sedikit percakapan saja pasti akan mampu meluluhkan hatiku lagi. Tidak. Aku tidak mau gadis pujaan mu menjadi cemburu. Cukup aku saja yang cemburu akan semua ini. Aku akan berusaha untuk menjauh darimu. Karena ini cara yang paling terbaik untuk melupakanmu dan semua tentangmu.
            Untuk kamu, gadis yang menjadi pujaan Tuanku. Tolong, jaga dia dalam hangat pelukanmu. Relakan bahu mu menjadi tempat sandaran dia jika dia lelah dengan semua aktifitasnya. Luangkan waktu mu untuk mendengar semua keluh kesahnya. Berikan jemarimu untuk tetap dalam genggamannya. Biarkan hatimu tetap merasakan kasih sayang yang tulus darinya. Jangan biarkan dia merasa kesepian dalam tidur malamnya. Aku titipkan dia kepadamu. Dia milikmu sekarang.
            Untuk kamu, Tuan. Sudah terlalu banyak hal yang kutuliskan untuk mu. Tak ada lagi yang perlu ku sampaikan padamu. Biarkan saja aku disini, sendiri melawan sepi. Bolehkah aku meminta padamu, Tuan? Permohonan kecil. Untuk sekali saja, bawa aku dalam doamu supaya aku tetap kuat melewati hari-hari ini tanpa mu. Iya tanpamu. Karena mulai besok aku akan menjaga jarak di antara kita berdua. Mulai untuk tidak menggubris semua ocehanmu yang biasanya kuanggap lucu yang mampu membuatku tertawa keras. Tidak memalingkan wajahku jika ada sesuatu hal yang terjadi padamu. Membiarkan saja kemana langkahmu akan pergi. Salahkah aku jika aku tidak peduli padamu lagi? Tidak mungkin salah. Doa yang kau ucapkan pasti tidak akan pernah menyebutkan namaku. Khayalanku selalu saja terlalu tinggi. Sudahlah. Kau bukan milikku. Aku tak berhak untuk menyentuh tubuhmu lagi. Aku tak berhak untuk berharap melihat bola mata, tawa canda, senyuman mu. Aku juga tak berhak untuk mengatur kehidupanmu. Aku pun tak punya kewajiban lagi untuk tetap mencari perhatian darimu. Aku pun perlu melakukan hal konyol di depan mu agar kau tertawa. Aku tidak perlu repot-repot memikirkan mu jika kamu sedang dalam keadaan terpuruk atau sedang sakit. Bukankah begitu Tuan? Sekali lagi, selamat ulang tahun Tuan. Sayangi dia yang sudah kau miliki. Walaupun aku dan kamu sudah punya jarak, tapi yakinlah namamu masih aku sebutkan dalam setiap doaku. Tetap menyediakan tempat di hati ku. Karena kamu cinta pertama aku. Aku janji tidak akan mengusik kehidupanmu lagi Tuan.

Dari gadis pemujamu,

yang tak akan pernah jadi pujaanmu.

Jumat, 23 Oktober 2015

Kenapa selalu kamu?



Ya. Kenapa selalu kamu yang menjadi pusat perhatianku selama ini? Yaa. Kamu yang berbadan tinggi, berkumis tipis layaknya anak lelaki seumuranmu, bermata maut, bersenyum manis, bertingkah konyol, berjiwa musik, bersuara tenor,  yang ingin sekali aku miliki, yang ingin sekali aku peluk dengan erat dan takkan kulepaskan. Idaman...
Aku semakin takut untuk kehilanganmu walau aku tahu benar bahwa kau bukan untuk ku. Bahwa kau bukan milikku. Aku tahu bahwa kau ada tetapi tak bisa ku sentuh. Ku genggam. Ku peluk. Aku hanya bisa melihatmu. Itu pun hanya dari jauh. Lantas, aku harus apa disaat rindu ini semakin menggebu-gebu, disaat malam yang dingin harus kulewati sendiri, berharap untuk kau ada disini, bersama ku, memelukku dengan hangat. Mungkin, dunia imajinasiku terlalu tinggi. Atau mungkin, aku hanya bisa melihat foto mu, yang diam-diam aku simpan di handphone ku. Karena aku sadar, cuma ini yang bisa kulakukan. Aku semakin takut ketika tahun depan akan menjadi tahun terakhir kita untuk bertemu, mengingat bahwa kau ingin sekali berkuliah di fakultas kedokteran terbaik di negara kita ini. Kau ingin sekali memakai alamamater berwarna cerah itu. Tapi apapun itu, aku tetap mendoakan yang terbik buatmu.
Aku semakin tertarik kepadamu, ketika kau berusaha untuk ‘menggoda’ku, membuatku tersenyum lagi saat aku diam seribu bahasa. Berusaha untuk membuat ku tertawa dengan tingkah konyol mu itu. Dengan semua logat batak yang kau ucapkan dengan tampang sok berwibawa. Aku semakin jatuh cinta dengan setiap ucapanmu. Aku semakin jatuh cinta dengan tatapan mata maut mu itu. Aku semakin membawa perasaanku ketika kau menanyakan "apakah ada aku atau tidak", kepada teman-teman yang ada di grup chat itu. Aku semakin merasa senang ketika kau katakan kepada temanku, ‘karena dia aku jadi rajin untuk ngerjain soal’. Gak penting? Tapi bagiku itu penting. Aku semakin jatuh cinta lagi, ketika melihatmu tertawa lepas karena melihatku. Kita sering, tak sengaja bertatapan, lalu tertawa bersama. Aku pun tak mengerti dari apa yang kita tertawakan itu. Tapi jujur itu membuatku bahagia. Aku semakin jatuh cinta padamu, ketika suaramu berubah menjadi lembut ketika berbicara denganku. Untuk apa kau lakukan itu? Sementara disisi lain, aku pernah melihatmu begitu mesranya dengan seorang wanita. Disaat aku melihatmu dengan dia, aku berusaha untuk bertindak biasa saja di depanmu. Dibelakangmu? Hanya aku dan ruangan kamar ku saja yang tahu. Setelah itu, aku mulai berpikir lagi untuk mundur saja secara perlahan. Aku tahu bahwa kau sudah mencintai dan dicintai oleh seorang wanita. Aku sempat khawatir ketika tahu bahwa kau tidak masuk sekolah karena sakit. Tapi ketika aku tahu bahwa ada wanita; teman dekatmu itu, yang juga khawatir denganmu, aku pun perlahan untuk diam saja. Diam namun mendoakanmu. Terus untuk apa semua ini? Karena kenyataannya, aku begitu sulit untuk melepasmu. Begitu sulit untuk membiarkan mu bersamanya.
Awal perkenalan kita mungkin sejak di bangku menengah pertama. Hingga sampai saat ini kita sudah sampai dititik dimana kita harus merancang masa depan kita masing-masing. Sudah lama ya? Ya! Aku pikir setelah kita tamat dari seragam putih biru itu, kita akan berpisah. Nyatanya, kita kembali bertemu. Aku masih ingat ketika, kau sibuk untuk menelpon ku tentang sekolah yang akan kita tuju. Lucu ketika mengingat hal itu. Memang, kita tidak seruangan. Tapi Tuhan izinkan kita kok untuk tetap bertemu. Lantas, kenapa seiring berjalannnya waktu, aku semakin sayang padamu? Apa tujuan Tuhan dibalik semua ini? Kenapa Tuhan ijinkan semua ini? Kenapa juga Tuhan ijinkan aku untuk melihatmu bersamanya? Kenapa? Kenapa? Kenapa?
Aku peduli padamu. Aku rela meluangkan waktuku, untuk menemanimu belajar walau sebenarnya aku sudah terlambat untuk datang ke persekutuan doaku. Padahal, apa gunanya aku menemanimu belajar? Apa gunanya aku duduk di sampingmu kemarin malam, menunggu mu belajar, sedangkan aku bukan milikmu, dan kau bukan milikku? Apa gunanya aku rela pulang malam, demi membantumu memahami materi pelajaran yang tidak kau sukai itu? Karena aku peduli dan sayang sama kamu, aku lakuin hal itu.
Sudahlah. Aku percaya, jika kita selalu dipertemukan dalam hal apapun, mungkin ada rencana yang indah yang sudah dipersiapkan. Mungkin aku harus sabar menunggu mu. Atau mungkin aku akan meninggalkan mu pada saatnya nanti. Biarkan saja kunikmati setiap waktu bersama mu walau aku harus belajar untuk menganggapmu sebagai teman ku saja. Biarkan saja aku untuk menikmati senyuman mu dari jauh, tatapan maut mu itu. Biarkan saja, aku disini diam-diam mendoakan mu. Biarkan saja aku disini, yang selalu khawatir tentang mu ketika aku tahu bahwa kau sedang sakit, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, aku hanya bisa membawamu dalam doaku. Karena, cinta akan tahu kemana dia harus menetap dan tinggal untuk selamanya. Karena cinta yang butuh perjuangan, akan manis pada akhirnya. Biarkan saja aku untuk menikmati pemandangan mesra kamu dan dirinya. Aku percaya, suatu saat aku akan tahu hasil dari penantianku ini. Aku sabar...


(semangat calon dokter (ku)...) 


Rabu, 08 April 2015

Apa Gunanya CINTA?


Apa itu cinta? Kedengaran begitu tak asing dengan kata itu? Ya. Setiap orang dengan mudahnya mengucapkan kata CINTA. Definisi cinta pun berbeda-beda bagi setiap orang. Bagi ku, Cinta itu nikmat untuk dirasakan, namun sulit diartikan bahkan susah untuk diterima kenyataan. Jenis cinta pun banyak. Namun biasanya cinta dikaitkan dengan hubungan tentang sepasang lelaki dan perempuan. Padahal, cinta bukan hanya sekedar itu!
Aku mengenal apa itu cinta semenjak aku duduk di bangku SMA. Ntah hukum apa yang ada di bumi ini, dimana katanya “jika kamu sudah duduk di bangku SMA, maka kamu akan merasakan cinta”. Sebenarnya cinta sudah dirasakan sejak kita lahir. Aku semakin mengerti apa arti cinta ketika cinta ku tidak berbalas, ketika cinta ku dikhianati, ketika cintaku tak ditanggapi, ketika cinta ku hanya dianggap sebagai perasaan biasa.
Jatuh cinta…
Sering sekali orang bilang “aku jatuh cinta sama dia semenjak aku ketemu dia.” Sama halnya dengan ku. Aku juga sering mengucapkan hal yang menurutku bodoh itu! Apa gunanya jatuh cinta? Sesering mungkin aku jatuh cinta, kenapa semakin sering aku tersakiti oleh cinta? Apa yang salah dengan cintaku? Apa cinta ku ini memiliki kutukan yang tak bias dipatahkan? Kenapa setiap aku menyukai seseorang, ada saja yang menghalanginya? Kenapa?!
Aku menyukainya. Tetapi ternyata, perasaanku hanya dianggap sebagai perasaan biasa. Ya. Awal mula aku menyukai seseorang lelaki yang umurnya diatas ku. Senior. Ntah apa yang ada dipikirannya, sehingga dia hanya menganggapku masih kecil dan belum dewasa. Kucoba untuk tetap menyanyanginya. Sampai suatu ketika, aku merasa sudah muak dengan semua ini. Ingin rasanya aku buang saja semua kata cinta yang selalu menghinggapi di kepala ku ini. Omong kosong apa ini? Kenapa setiap orang yang jatuh cinta, pasti selalu bilang indah. Kenapa aku tidak? Cinta yang seharusnya mengajarkan aku artinya kebahagian. Namun kenapa cinta juga yang mengajarkan aku artinya sakit. Mengajarkan aku kuat. Tegar. Berjuang. Setia. Lantas, apa yang harus kukatakan kepada cinta? Terimakasih? Atau malah memaki hal bodoh semacam cinta?
Aku mulai melupakan semua kenangan ku. Dan menutup pintu hati ku dengan rapat. Cinta yang kuanggap indah, telah mengubah ku menjadi orang yang menganggap cinta itu tidaklah penting! Ketika aku sudah memutuskan untuk menutup hatiku untuk beberapa saat, kenapa cinta bangun kembali? Lelaki dengan senyumnya yang ramah. Senyum itu mampu membuka pintu hatiku sedikit demi sedikit. Aku awalnya hanya menganggap ini hal biasa. Tetapi semakin lama semakin luar biasa. Ya! Tanpa kusadari aku jatuh cinta l a g i. Sial! Cinta yang kuanggap hal bodoh memang mampu membuatku menjadi bodoh.Tapi yang pasti,  Cinta memang anugrah.  Dan cinta bisa datang kapan saja.
Semakin hari aku semakin “bodoh”.  Aku sudah kembali memutuskan bahwa cinta memang indah. Aku menjadi robot yang terus diperintah oleh cinta! Tuanku adalah cinta. Tak peduli lagi dengan masa lalu ku, aku menganggap dia memang menyayangiku. Dan aku juga mencintainya. Lalu, haruskah aku menyesal dengan masa lalu ku? Mungkin aku sudah belajar dari masa laluku.
Dan ternyata, aku salah. Plak! Seperti digampar dengan keras oleh preman pasar, ketika melihat orang selama ini kau anggap menyayangimu sedang duduk bersama dengan seorang wanita. Patah hati. Patah hati menghasilkan air mata. 2 kali sudah cinta mengajarkan aku untuk tetap kuat! Lalu, selama ini aku dianggap apa?!
Ntahlah. Sekarang apa gunanya cinta? Jika cinta hanya mengajarkan mu untuk tetap kuat, untuk tetap tegar, untuk tetap bahagia, lalu kenapa cinta juga yang membuatmu menangis? Salahkah aku menyukai seseorang? Salahkah aku jatuh cinta? Tak bisakah aku merasakan kebahagian dari cinta?
Setahun sudah aku menutup diri. Membiarkan isi kepalaku dengan segala macam pertanyaan yang terus menghantui ku. Setiap hari aku selalu berbicara dengan diri ku sendiri. Setiap hari aku selalu bertanya kepada setiap orang tentang cinta. Terkadang aku tertawa sendiri dengan jawaban yang tak masuk diakal ku. Ya! cinta itu mematikan!
Kembali cinta ku alami, ketika aku kembali bertemu dengan orang yang ku kenal sejak kecil. Betapa kagumnya aku melihat dia yang sekarang dengan penampilan pertama sedang memakai jas sambil duduk membiarkan jemari tangannya menari diatas tuts piano, setelah tak berjumpa dengannya selama 10 tahun. Siapa yang tak kagum akan hal itu? Lalu, kenapa cinta bangun kembali? Perasaan apa ini? Cinta? Atau hanya kagum? Awalnya aku hanya kagum. Tetapi, rasa cinta lebih besar dari rasa kagumku. Aku sudah trauma dengan segala bentuk cinta. Cinta itu hanya omong kosong! Tapi semakin aku memberikan sugesti semacam ini, semakin sering otak ku membayangkan dirinya. 6 tahun adalah jarak yang tak mungkin untuk sebuah kata cinta. Ya. Umurku dan umurnya terpaut 6 tahun. KENAPA SELALU SAJA ADA HALANGAN AKAN CINTA? Sampai sekarang ini, hanya dia yang selalu kupikirkan. Tak ada yang lain. Apakah umur yang berbeda jauh bisa mematahkan hati ku ini lagi??.
Entahlah. Semakin kau berusaha untuk mematikan cinta, semakin kuat cinta untuk bangun kembali. Karena cinta tak akan pernah mati. Sampai kapan pun. Cinta akan selalu hidup.

Namun sampai kapan cinta akan mematahkan hati ku? Jawabannya. Sampai aku benar-benar menemukan orang yang tepat untuk memperbaiki hatiku dan akan berusaha untuk tetap menjaganya agar tidak patah lagi walau bentuknya sudah tidak utuh lagi. karena pasti ada kepingan yang hilang dari hati tersebut. ;’) 

Kamis, 14 Agustus 2014

THE PIANO GUYS!

Heyhoooo. Ini beberapa coveran dari THE PIANO GUYS. Om Jon sebagai pianist dan Uncle Stevent sebagai cellist. Semoga terhibur yaaaaa! Thankyou...

JUST THE WAY YOU ARE


STORY OF MY LIFE


LET IT GO


TITANIUM


A THOUSAND YEARS


WHAT MAKES YOU BEAUTIFUL


LOVE STORY


O COME EMMANUEL


And the others you can visit this http://thepianoguys.com/thepianoguys/ :)






Minggu, 16 Februari 2014

Eccedentesiast



ECCEDENTESIAST...

noun
Someone who fakes a smile"


"Dia tersenyum, tertawa, ceria, bahagia, tetapi sebenarnya tidak."

 Eccedentesiast adalah hal yang sederhana.
Yang tidak akan kau sadari kedatangannya.

Eccedentesiast adalah hal yang baik, juga buruk.
Yang biasa di-cap sebagai hal negatif, juga positif.

Eccedentesiast adalah sifat refleks.
Yang tidak bisa kau hentikan.

Namun Eccedentesiast bukan sesuatu yang tetap.

Dan tidak ada yang salah menjadi Eccedentesiast, karena itu adalah sebuah pilihan.

Seorang eccedentesiast biasa mengorbankan dirinya. Namun bukan berarti dia senang melakukannya. Kadang kala ia melepaskan sifatnya itu, dan menjadi hilang kendali sama seperti yang lainnya.
Ia tersenyum ketika dirnya dan yang lain bersedih. Ya, dirinya sebenarnya bersedih, namun mengapa?

Eccedentesiast kecil mungkin sering menangis. Namun mungkin tidak pada sembarang tempat. Ia menangis dalam diam, saat tidak banyak orang yang melihat.

Suatu saat ia terjatuh dan terlukalah lututnya, darah mengalir dari lututnya. Ia sendirian saat itu dan tidak ada yang menghampiri untuk menolongnya, namun ia tidak menangis. Niatnya yang hendak memanggil temannya yang lain ia urungkan dan ia pun kembali ke kelasnya sambil menahan sakit. Ia duduk di pojok ruangan menunggu temannya yang lain dalam diam. Beberapa murid telah masuk namun tak ada seorangpun yang menyadari keadaannya, sampai pelajaran selanjutnya pun dimulai. Eccedentesiast kecil masih duduk di pojokan, saat itulah salah satu temannya sadar akan hal itu.
Semua temannya berbalik padanya, ada menanyakan keadaannya, memasang tampang khawatir kepadanya, dan ada yang mendoakannya. Seorang temannya berkata bahwa ia mungkin akan langsung menangis jika itu terjadi padanya dan Eccdentesiast kecil hanya membalasnya dengan senyuman. Saat ia pulang kerumah, rasa sakitnya semakin tidak tertahan. Ia menangis saat itu, saat hanya keluarganya yang melihat.

Pernah suatu saat Eccedentesiast bertengkar dengan saudaranya yang lebih tua, karena ego saudaranya yang terlalu tinggi itu akhirnya Eccedentesiast kecil mengalah. Namun ia segera berlari ke dapur dan menangis disana. Tangisannya saat itu sangat kencang dan membuat ayahnya datang kepadanya. Apa yang kau bayangkan? Apakah kau membayangkan ayahnya itu akan menunduk dan menghibur anaknya yang sedang menangis itu? Tidak. Saat itu ayahnya datang sambil memegangi sapu seperti hendak memukul. Ayahnya menasihatinya habis-habisan sambil sedikit berteriak. Namun bukan berarti ayahnya adalah orang yang jahat. Ya, ayahnya sedang mengajarinya tentang ketegaran walau saat itu Eccedentesiast kecil belum menyadari hal itu. 
Kuat bukan? Ya, dia hanya anak kecil saat itu. Tetapi sampai kapan Eccedentesiast kecil akan tahan terhadap hal itu?

Akhirnya ia pun tumbuh besar. Ia mulai mengetahui banyak hal. Temannya pun menjadi banyak. Ia tumbuh dengan baik. Masa remajanya sangat berwarnya ketika banyak temannya yang senang membagi cerita kepadanya. Eccedentesiast remaja sangat senang jika ia harus memberi saran kepada teman temannya, dan melihat senyuman dari bibir teman temannya itu. Namun tidak hanya hal-hal yang membahagiakan seperti itu yang mewarnai harinya. Ia juga sudah mengenal konflik. Banyak konflik yang harus dihadapinya menjadikan Eccedentesiast remaja semakin sering mengalah. Ya, ia sangat membenci konflik. Sebisa mungkin itu harus dihindarinya.
Semakin dewasa, ia semakin jarang menangis. Saat perpisahan dengan guru dan temannya pun seringkali hanya dia yang tidak menangis. Dia bersedih sama seperti yang lainnya, dia ada di antara teman temannya, mengelus pundak temannya sambil tersenyum. Ya, dia senang melakukan hal itu.
Ada masalah pun seringkali pun dipendamnya. Dia semakin tidak suka memperlihatkan wajah menangisnya di  depan banyak orang, termasuk kedua orangtuanya.

Jadi salahkah menjadi seorang Eccedentesiast? Apakah berarti dia seorang yang munafik, bermuka dua dan yang lainnya? Jika dia tidak menyukainya, mengapa ia tersenyum? Lalu apakah dia seorang yang gila?
 Tidak, dia hanya berusaha membuat dunianya menjadi lebih baik.Tersenyum bukanlah sia-sia. Ia berusaha bangkit dalam dunianya. Karena ia berpikir bahwa kita tidak akan tahu jika mungkin akan ada orang yang tersenyum karena dirinya yang tersenyum. :)

Minggu, 03 November 2013

Senyuman di belakang panggung

              Aku tidak heran dengan segala perhatian yang diberikannya kepada ku selama beberapa bulan ini. Awalnya memang agak aneh dengan tapi lama-kelamaan aku merasa nyaman dengan segalanya. Percakapan sederhana kami tiap malam, pertemuan hangat walau singkat setiap minggu nya, perhatiannya, semua berawal dari ini semua. Sampai akhirnya aku sampai pada titik dimana aku mulai mengagumi, menyanyangi bahkan mencintainya. Hari demi hari, kami lewati secara menarik dan tidak membosankan. Digarisbawahi kata tidak membosankan. Ya, itulah kami.
             "Ta... tidur. Udah malem nak. Besok sekolah loh. Udah dulu online nya. Besok disambung lagi." Itu lah cerewatan mama-ku yang setiap jam 10 lewat 20 menit selalu kudengar. Menyuruhku untuk tidur. SELALU.             "Bentar Ma. Dita masih ngerjain tugas nih. Besok dikumpul taukk." jawab ku dengan sesederhana mungkin. Padahal yang sebenarnya ku lakukan adalah ber-chatting ria dengan sosok yang kukagumi itu.
            "Dita, tidur! Pilih mana? Tidur atau laptop, hp, iPad, nya mama sita?" itulah ancaman mama-ku tersayang.
            "Iya, iya Dita tidur." balasku dengan muka anak jaman sekarang.
            "Selamat tidur ya sayang. Lanjutin chatting-an dengan Bang Dimas nya besok aja ya sayang. Hahaha.."ucap mama-ku dan disertai tawa nya.
            Aku mendadak seperti diberi cabe rawit di lidah ku. Aku terkejut. Aku mendadak ter"bodoh" dan merasa menjadi orang paling idiot didepan mamaku. Karena selama ini aku tak pernah menceritakan tentang ini kepada beliau.
           "Hah? Mama apaan sih? Orang Dita lagi ngerjain tugas kok. Chatting sama Bang Dimas? Ogah." jawabku sok cuek.
           "Mucucihh?" jawab mamaku dengan meniru gaya ku yang sering kuucapkan serta kulakukan kepadanya.
           "Aaaa bodo bodo bodo. Mama pergi aja deh. Dita mau tidur, udah ngantuk. Udah mama pergi pergi pergiiiii." teriakku pada Mama dan aku langsung menutup wajahku yang sebenarnya sudah memerah dan ingin tertawa terbahak-bahak akan hal ini. Lucu? Aneh? Yaaa bisa jadi.
          "Selamat malam sayang. Mimpiin Bang Dimas ya." teriak Mamaku dengan pekikan kecil.
          "MMAAAAAAAAMMMMMMMMMMAAAAAAAAAAA" teriakku dari balik dinding kamarku.
          Aku bahagia sampai aku lupa akan dunia ku. Aku terlalu bahagia. Tapi sesungguhnya aku tak tau arti dibalik kebahagian ku ini. Akankah kekal atau hanya sementara saja?
          Aku pun tak tau.
 
                                                                          ***
     
           Pagi. Aku masih duduk di balkon di kamar ku. Mencoba untuk menikmati udara segar yang seharusnya mampu menyejukkan hati dan pikiran ku. Kupandangi semua birunya langit pagi. Kicauan burung. Matahari yang mulai menampakan wajahnya. Bunga yang ikut memasang wajahnya yang paling indah. Dan aku... Aku mulai merasakan ada hal aneh yang mulai menggangu pikiranku. Memang terasa sejuk. Tapi sejuk itu bukan sejuk yang menyegarkan tapi sejuk yang terasa sungguh sangat dingin. Menusuk dan merasuk ke dalam tulang-tulang dalam tubuhku. Aku tak tau apa yang akan terjadi.
           Senyumku mengembang.
           Walau hatiku mulai bimbang.
          Aku masuk ke kamarku dan mulai membaringkan diriku lagi di tempat tidurku yang kurasa memang sangat empuk ini. Kuambil ponsel ku dan kubuka beberapa situs. Mulai dari twitter, facebook, path, instagram, dan yang lainnya. Di mulai dengan twitter. Aku mengecek mention ku. Yang kudapati mention masuk dari Bang Dimas. Seperti biasa, aku hanya tersenyum manis sekali membacanya. Senyumku sangat tulus. Sangat tulus. Tanpa ada rasa keraguan.
          Tapi... mendadak dadaku terasa sesak saat aku membaca segala tweet di timeline nya dengan seorang wanita yang memang juga dekat dengannya. Aku cemburu? Aku cemburu? Aku cemburu? Aku pun tak tau. Dan wanita ini juga adalah teman dekatku. Sahabatku. Ya. Sahabatku.
          Hmmm. Ternyata feeling gak pernah salah. Perasaan yang kurasakan pagi ini , memang benar adanya. Ntah apa yang ada dipikiranku sekarang. Hilang. Senyumku yang mengembang, yang tulus, yang murni dari hatiku yang paling dalam itu, terasa sangat sulit untuk kulakukan lagi. Bibirku terasa kaku. Memori otakku terasa sudah menghapus kata "Senyum Yang Tulus".
          Ya. Percakapan mereka jjjjjjaaaaaaauuuhhhhh lebih sempurna dari percakapanku dengan nya. Percakapan mereka jauh lebih mesra, lebih menarik, lebih dekat, dan lebih menyakitkan saat aku yang membacanya. Aku iri? Aku patah hati? Ntahlah...
         Yang tertulis di otakku sekarang "Aku tidak cemburu". HAHAHA, aku pembohong. Tidak mungkin aku tidak cemburu. Aku pasti cemburu. Aku berdosa jika aku mengatakan kalau aku tidak cemburu.
         Aku tidak sanggup.
         Tapi aku harus kuat.
         "Tersenyumlah... walau itu menyakitkan dan memparah luka hatimu saja"gumamku.
         "Mungkin mereka hanya sekedar teman. Sama seperti ku. Gak apalah. Anggap saja mereka teman akrab juga. Mungkin mereka juga bersahabat."

                                                                             ***

           "Taaa, bangun nak. Udah siang loh ini. Kamu gak sekolah?" teriak mama-ku yang mengganggu tidurku yang kurang dari 2 jam itu.
           "Dita lagi gak enak badan, Ma. Lagian hari ini sekolahan juga pada lagi liburan kok. Dita masih ngantuk." jawab ku dari balik selimut.
           "Oh iya ya. Mama lupa loh sayang. Sarapan dulu yuk. Sakit??!  Minum obat nak. Biar gak tambah sakit. Besok kan sekolah. Ayo bangun." jelas mama dari balik pintu kamar yang memang belum kubuka. Karena untuk membuka mata dan bangkit dari Pulau Kapuk ku saja sungguh sangat berat.
           Aku hanya diam dan tak menjawab celotehannya yang memang tidak terlalu penting menurutku.
           Aku meraba meja kecil disamping tempat tidur ku dan mengambil ponselku. Kulihat ada beberapa notifikasi. Tujuanku hanya untuk membuka media kicauan berwarna biru itu. Dan ternyata hanya kicauan teman-teman ku yang tak jelas. Kulihat mentionku tak dibalas olehnya. Sampai akhirnya kuputuskan untuk ngestalk timeline nya saja.
           Dengan segenap tenaga yang masih tersisa dan hati yang sudah luka, kubaca semua tweet nya yang ternyata masih berkomunikasi dengan sahabatku itu. Aku tertawa. Tertawa. Tertawa. Tertawa. Sampai berubah menjadi isakan. Ya. Kuakui aku bukan wanita kuat. Aku wanita lemah. HAHAHAHA.
          Wajahku memang tertawa tetapi hatiku menangis. Ntahlah...

                                                                             ***

              Pagi. Minggu. Balkon. Kicauan. Bunga. Matahari. Hembusan angin. Aku. dan air mata.
              "Ta, ada yang nyariin kamu tuh di depan." teriak mama.
              Aku tersadar dari lamunanku, "Siapa Ma?? Bilang Dita masih sibuk. Sibuk ngantuk." jawabku malas.
              "Yakin?? Temuin dulu deh. Ntar nyesal loh." kata Mamaku meyakinkan.
              "Siapa sih? Penting banget nyariin aku pagi pagi kayak begini? Fans kali." gerutu ku.
              "Iya. Tunggu. Bilang sabar." sahut ku dengan sedikit teriakan.
               Aku keluar dari kamar ku dan menuruni tangga dengan memakai headset dan rambutku yang sengaja kuacak-acakan. Namun. Yang membuatku membelalakan mataku yaitu siapa yang datang pagi-pagi begini. Ya. Dia. Dimas. Tepatnya Bang Dimas.
               "Wwwooppp. datang dia.." teriaknya.
               "Mau apa bang? Ganggu tidur aja ihh." jawabku tanpa beban.
               "Headsetnya buka dulu. Suara nya gede banget. Abang gak pekak kok. Wakakak"katanya sambil tertawa.
               "Ohh. Hahaha. Sorry bang. Abis lagunya enak. Sesuai gitu sama yang lagi aku rasain"
               "Jalan yuk."katanya langsung ke topik pembicaraannya mungkin.
               "Hah? Males. Lagi gak enak badan. Lagian gak jamin aku kalo jalan sama kamu bang. Gak selamet nanti aku sampai rumah. Wahahaha" jawabku acuh tak acuh.
               "Woles lah. Dijamin selamet kok. Kan Sintia juga ikut. Kita bertiga ke mall. Refreshing."jawabnnya seenaknya berusaha meyakinkan kalo dengan ikutnya Sintia pasti perjalanan akan terjamin.
               DDDDDDDDEEEEEEEEEEGGGGGGGGG!!!
               "Oohh, Sintia ikut toh. Yaudah berdua aja gih. Dita lagi banyak tugas bang Dimas sayang." jawabku sok manja padahal sebenarnya aku kepingin muntah.
               "Yah kok gitu??"
               "Kan udah Dita bilang. Dita lagi banyak tugas. Kalian berdua aja pergi. Aku ikhlas kok"
               "Ikhlas? maksudnya?"
               "Uppss, sudahlah. Gak usah dibahas. Pergilah dengan Sintia. berdua. pasti lebih nyaman tanpa adaya aku. Aku tau itu." tukasku diiringi dengan senyuman ku yang tak dari hati itu.
               "Maksudnya? Abang gak ngerti lah."
               "Wakakakakakak. Becanda becanda becanda kok bang. Maksudnya abang pergi aja sama Sintia atau ajak yang lain. Dita lagi kepingin sendiri."
               "Kenapa sih? Lagi ada masalah sama Sintia?"
               "Gak kok. Kata Ibu Peri gak boleh ada masalah dengan sahabat sendiri"
               "Yaelah, ini bocah kerjaannya Ibu Peri mulu."
               "Biarin. Udah abang pulang sana. Pergi sama Sintia harus ganteng ya bang."
               "Yah. Yaudah deh kalau kamu gak mau. Dasar bocah pemalas! Udah belain pagi-pagi ke sini juga. Haduh...  Ehh. Iya dong. Pasti. Kan abang mau jalan-jalan. Wkwkwk. Dadada ibu peri." teriaknya sambil melambaikan tangannya.
               Lambaian mu terasa begitu ringan kau lakukan. Kenapa aku tak bisa seperti mu? Kenapa aku hanya bisa melambaikan tanganku diiringi dengana adanya air yang membasahi pipiku? Kenapa? Kenapa? Kenapa aku harus merasakan ini? Kenapa bukan kamu saja?
               Aku harus kuat. Ya, Dita harus kuat.

                                                                           ***
               Sabtu. Malam. Di suatu cafe. Yang mana aku sering nongkrong disitu. Menghabiskan waktu malam ku dengan bernyanyi. Ya aku, Dita juga seorang penyanyi cafe. Tak banyak orang yang tau akan hal itu. Karena setiap ke cafe aku selalu merubah gayaku. Berdandan ala gaya wanita yang sudah dewasa. Menggunakan maskara, softlens, bulu mata palsu, dengan rambut di gerai, memakai kemeja, celana jeans, sepatu boots, dan selalu memakai topi. Ya. Aku merubahnya secara total. Tapi aku bahagia akan hal itu.
               Saat-saat seperti inilah yang memang selalu aku inginkan. Aku sibuk dengan dunia ku. Sehingga aku bisa melupakan sejenak akan luka sakit ku ini.
               Tetapi.........................................................................................................
               "Karena kusanggup walau ku tak mau. Berdiri sendiri tanpamu. Kumau kau tak usah ragu. Tinggalkan aku. Walau kalau memang harus begitu." lantunku yang mungkin menggunakan pengahayatan yang sangat dalam.
                Jeng jeng jeng jenggg *ala musik horor* hahaaa
                Seketika darahku berdesir begitu cepat,memenuhi seluruh pembuluh darah ditubuh ku ini. Detak jantungku semakin cepat. Otakku tak sanggup lagi berpikir tentang apa yang kulihat. Mataku ingin menumpahkan seluruh air mata. Ya. Tepat didepan aku duduk sekarang, ada sepasang insan manusia yang sudah sungguh sangat ku kenal. Dimas dan Sintia. Duduk berdua. Tangan yang berpadu. Kepala seorang wanita yang berada di dada seorang lelaki. Romantis? Ya. Pasti.
                Aku menghentikan nyanyianku. Aku berlari keluar. Mencari tempat yang memang sungguh sangat sepi. Dimana aku bisa menangis lebih kencang lagi. Pertama, kenapa Dimas bersama Sintia? Kedua, kenapa sahabatku sendiri mengkhianitiku? Aku sering cerita tentang Dimas kepadanya. Ya. HAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHAHA. Tawa ku dan tangisan ku sudah bersatu. Bercampur baur. Membentuk luka baru dan lebih parah lagi. Lebih bernanah lagi. Memori otakku seketika memutar kembali kisah dan percakapan sederhana kami yang membuatku terpana dengannya. Elusan di kepala. Panggilan khusus. Canda tawa bersama. Semua terlukis indah. Semua tergores indah. Semua terukir dengan sempurna. Semua terekam dengan jelas dan diputar kembali yang malah membuat luka baru lagi.
               Sementara diseberang sana. Masih terdapat sepasang insan yang sudah memadu kasih tanpa memedulikan PENYANYI yang berlari meninggalkan panggung tadi. Ya. Mereka tetap mesra. Mesra menjalin kebersamaan. Menjalin cinta kasih yang sayang. Tak ada rasa penasaran akan hilangnya penyanyi tersebut pada diri mereka.
              Tetap asik dengan dunia merek berdua dan melupakan segala yang terjadi sebelumnya.

                                                                              ***

              Ntah sudah berapa jam aku tenggelam dalam kesedihanku yang tak penting ini. Aku sudah seperti orang gila yang sudah tidak punya tujuan hidup. Ya. Kedua orang yang sudah dekat dengan ku, tak peduli akan keadaanku. Tak satupun dari mereka mempedulikan aku. termasuk sahabatku atau kakaku, Sintia. Dia sudah bahagia dengan dirinya. Dirinya sudah memiliki segalanya.
              "Ternyata ditusuk dari belakang itu sakit ya. hehehehe. hahahahaha. HAHAHAHAHAHAHAHA." kataku dengan polosnya. Semua berubah. Ya. Berubah. Be ru bah.***
              Aku mengambil ponselku. Tanpa berpikir panjang. Tanpa memikirkan sebab akibatnya, aku mengirimkan pesan singkat ke Dimas.
             "Selamat pagi. Ibu Peri kangen sama Abang Dimas. Ibu Peri sayang Abang Dimas. Hehehee :"D"
              Aku tak tau apa yang ada dipikiranku. Aku tak peduli dengan apa balasannya nanti. Aku hanya bermaksud untuk mengobati luka ku ini. Ya. BERMAKSUD UNTUK MENGOBATI NYA. Aku tidak berpikir akan apa yang akan terjadi nantinya. Apa reaksi dan responya. Aku tak memikirkan itu. Bodohnya aku.
              Ya. berjam-jam aku menunggu reaksinya. Dan tak ada balasan. Aku tersenyum. tersenyum manis tapi miris. Tertawa terbahak-bahak tetapi ada air mata yang jatuh. Itulah aku. Berusaha tegar tapi gagal. "Sok kuat." Itu lah kata nya.
              Sampai aku tak sengaja membuka timeline nya dan membaca salah satu tweetnya "Aku sayang kamu tapi tidak cinta kamu. Maaf :)"
              "Hehehehe... Kok Dita bodoh ya? Udah jelas-jelas kemarin ngeliat Bang Dimas sama Sintia berduaan kok sekarang Dita nyatain cinta? Cewe lagi yang nyatain cintanya. Duhh, Dita bego banget ya. Dita... Dita, sabar ya Dita. Makanya tadi mikir dulu. HAHAHAHAHAHAHAHA" kataku kepada diriku sendiri yang memiliki bayangan di kaca di depan aku berdiri sekarang. Berusaha untuk tidak menangis. Tapi gagal. "Tuhan, aku pasrah. Bisakah hilangkan ingatanku sekarang? Bisakah buat aku gila sekarang? Atau bisakah buat aku menjadi anak kecil yang tau mengerti akan apa itu cinta, apa itu sakit hati, apa itu sayang, apa itu luka lebam di hati? Atau bisakah aku mati sekarang? Agar aku bisa untuk tidak melihat mereka lagi? Bisakah?" tanyaku kepada siapa pun yang bisa mendengarkan keluh ku ini. Aku tak sanggup.
              Aku sakit. Sakit. Sakit. Bahkan Mati rasa.

                                                                            ***

             Beberapa hari berlalu begitu saja, ingin rasanya aku mati saja jika dalam keadaan seperti ini. Aku lupa cara tersenyum yang tulus kepada semua orang. Walaupun mereka berbuat baik kepadaku. Karena diotakku hanya ada kata "Tersenyumlah walau itu menyakitkan". Jadi kalau aku tersenyum, aku pasti sakit. Karena aku tak tau apa arti "SENYUM" sekarang ini. Sejak kejadian aku menyatakan perasaan itu, sejak itu juga kami sama sekali tidak berkomunikasi. Aku kehilangan apa arti cinta sebenarnya. Dita yang periang. Dita yang ceria hilang begitu saja tanpa sebab. Lenyap ditelan bumi.
            Sabtu. Sore. Rumah. Kamarku. Aku berniat untuk kembali ke cafe. Menuangkan segala penatku lewat bernyanyi dan berharap untuk tidak bertemu dengan sepasang kekasih itu. Dengan gaya seperti biasa, aku pergi ke cafe De Javu.
            "That should be me holding you're hand. That should be me make you laugh. That should be me this is so sad. That should be me. That should be me feeling your kiss. That should be me buying your're give. This is so wrong. I can't go on."
             Aku sengaja menutup kedua mataku saat itu. Takut akan adanya ada hal buruk yang akan terjadi. Namun sialnya, saat aku selesai bernyanyi, aku membuka kedua mataku, dan yang lebih sialnya lagi. Aku mendapati mereka di sudut cafe (lagi). Mereka mesra. mesra sekali.
             Pertanyaanya, kenapa aku harus menangis? Kenapa aku tertawa aja? Kenapa aku tidak tersenyum walau sakit? Ayoo senyum Dita. Senyum gakpapa kok. Walau sakit. Ingat. Senyum Dita. :")
           
                                                                               ***

             Selesai melantunkan lagu itu. Aku pergi. Dan masuk dari pintu depan dan bermaksud untuk menemui mereka. Aku urungkan niatku itu. Pikiran dan hatiku tidak sinkron. Hatiku menyuruhku untuk tidak menemui mereka;  pikiranku bilang temui mereka. Kuputuskan untuk..................................... menemui mereka. Ya. Aku kuat. Pasang wajah termanis nanti ya Dita.

             "Hai." celetukku sambil melambaikan tangan.
             "Boleh gabung gak?" tanyaku
             Ntah mendapat kekuatan dari mana aku juga gak tau. Aku bisa pasang wajah senyum dan mampu menatap mata nya yang indah itu. Mata yang biasanya bisa memberikan kekuatan untuk ku. Memasang wajah bahagia melihat sahabatku bisa duduk berdampingan dengan laki-laki yang kukagumi ini.
             "Halo. Kok bengong? Ada yang salah ya? Kalau gak boleh juga gakpapa kok. Hehehe. Maaf ganggu." kataku. Yang bodohnya kenapa mataku menjadi basah dan hendak menumpahkan banyak air. Mataku sudah berkaca-kaca.
             "Byee."
             "Ehh, tunggu. Duduk sini, Dit."cegah Sintia menarik tanganku dan menyuruhku untuk duduk di dekatnya.
            "Bener nih? Gak ah. Kapan-kapan aja kita ketemu lagi ya. Aku gak enak. Ganggu kalian" sahutku
            "Duduk sini aja." senyum Sintia.
            Beberapa menit berlalu begitu saja. Tidak ada yang membuka pembicaraan. Semua diam seribu bahasa. Serasa terkena serangan untuk tidak bisa berbicara satu sama lain. Kaku. Diam. Membisu. Ntahlah. Aku benci dengan pertemuan seperti ini. Benci sekali.
            "Emmm, kita makan di luar yuk." ajak Sintia.
            "Gak ah. Aku nanti makan disini aja. Kalian berdua aja pergi makan. Gakpapa kok." jawabku dengan nada datar.
            "Ayo lah...." bujuknya dengan wajah andalan Sintia. :'D
            Capcus kami bertiga pergi dengan tanpa kata sedikit pun. Se di kit pun.

                                                                                   ***

            Mereka berdua jalan berjauhan. Ntah apa sebabnya juga aku pun tak tau. Mungkin karena adanya aku. YA! KARENA ADANYA AKU.
            "Emm, aku pergi aja ya. Gak enak sama kalian berdua. Jalannya jadi jauhan gitu. Aku pergi ya. Maaf udah ngerepotin kalian." kataku dengan tanpa berpikir lagi serta mata sembab.Ya selama perjalanan menuju restorant ini aku menangis. Sudahalh....
           "Mau kemana?" celetuk Dimas
           "Mau kemana? Ke tempat dimana aku bisa bebas dari segala kisah pahitku. Aku lagi kepingin menyendiri." jawabku
           "Dimana itu kalau aku boleh tau?" tanya Dimas yang mulai berjalan mendekati ku dan meninggalakan Sintia dibelakangnya.
           "Abang gak perlu tau. Kamu  cukup jaga Sintia ya." jawabku singkat
           "Kamu kenapa?" tanyanya
           "Aku? Aku baik-baik saja kok. Jangan khawatirkan aku. Aku tak perlu dikhawatirkan. Aku bukan siapa-siapa yang harus dipedulikan." jawabku sambil tersenyum walau mataku bukan tertuju ke depan; bukan menatap matanya.
           "Aku mau pergi. Pergi mencari obat dimana aku bisa menyembuhkan luka-luka parah ku ini dan menyuruhnya untuk menghapus kisah-ksah manis yang sekarang tak bisa aku lupakan. Aku akan pergi sejauh mungkin. Menikmati dunia kesendirianku dengan tersenyum walau sakit. Jangan pedulikan aku." jelasku sambil terisak dan suaraku menjadi parau.
           "Aku sayang sama Dita. Jangan pergi ya. Disini aja sama Dimas."
           "Sayang beda dengan cinta. Aku tau kok kalo kakak sayang sama Dita. Tapi Kakak gak cinta sama Dita. Sementara Dita? Sudahlah kak. Biarkan Dita sendiri ya. Dita kuat kok. Ibu peri bilang, Dita pasti kuat. Dita kan gak tukang nangis"bela ku.
           "Persetan dengan Ibu peri! Jangan pergi ya Dita. Disini aja. Kamu bohong. Aku tau kamu bohong. Aku tau kamu pasti menangis kan selama ini. Membiarkan wajahmu tetap tersenyum manis didepanku. Iyakan Dita?" katanya dengan nada suaranya yang semakin keras.
           "Dita gak pernah nangis Kak. Liat ni. Dita gak ada air matakan di pipi Dita. Gak adakan kan kak?? Iyakan kak?? Dita kuat kak." jawabku yamg malah membuat air mataku tak terbendung lagi. YA. DIA JATUH LAGI.
           "Maaf Kak. Dita harus pergi. Dita akan cari dokter yang bisa buat Dita senyum lagi. Bukan senyum terpaksa. Tapi senyum tulus. Karena pada akhirnya, Dita dan Kak Dimas gak akan pernah menyatu. Karena selama ini aku berjuang untk kakak, tapi ternyata kakak tidak menghargai dan berjuang untuk dia. Kita gak bisa bersatu kak. Dita ikhlas kak." jelasku.
           Sampai akhirnya tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Dimas dan Sintia. Aku mencium pipi Kak Dimas dan aku pun pergi dengan jalan gontai dan lemas. Terakhir kalinya aku melakukan hal bodoh seperti itu.
           Tersenyumlah..... Karena ku sanggup ;')